Problem Baseb-Learning

02/05/2010 21:42

Problem-Based Learning

“Problem-based learning (PBL) is a method of learning in which learners first encounter a problem followed by a systematic, learner-centered inquiry and reflection process” (Teacher & Educational Development, 2002: 2). Artinya: problem-based learning (PBL) adalah suatu metode pembelajaran di mana pembelajar bertemu dengan suatu masalah yang tersusun sistematis; penemuan terpusat pada pembelajar dan proses refleksi (Teacher & Educational Development, 2002: 2)

              Dari permasalahan yang diberikan, peserta didik mengidentifikasi pokok bahasan (issue) untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep yang mendasari masalah tadi serta prinsip pengetahuan lainnya yang relevan. Fokus bahasan biasanya berupa masalah (tertulis) mencakup beragam fenomena yang membutuhkan penjelasan. Problem-based learning (PBL) bertujuan agar peserta didik memperoleh dan membentuk pengetahuannya secara efisien dan terintegrasi. Kegiatan untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru melalui pembahasan masalah tadi dikenal sebagai “problem first learning” (Harsono, 2004: 2-3).      

Walker & Leary (Purdue University Press2009. Vol. 3 pg. 12). The Interdiciplinary Journal of Problem-based Learning (IJPBL). Diambil tanggal 10 Mei 2009 diungkapkan: …asked to work in small groups, and most importantly acquire new knowledge only as a necessary step in solving authentic, ill-structured, and cross-disciplinary problems representative of professional practice. Artinya; PBL dilakukan dalam kelompok kecil, untuk memperoleh pengetahuan baru yang merupakan langkah untuk menyelesaikan masalah secara sempurna untuk mengatasi masalah dan memperbaiki kebiasaan yang tidak baik.

Dalam artikel: Wood (Leeds LS2 9JT 30 April 2004). Diambil tanggal 20 oktober 2008, diungkapkan: “Some of the members of the group may have knowledge that can help in formulating or partially solving the problem”. Artinya beberapa dari anggota kelompok mungkin mempunyai pengetahuan yang dapat membantu merumuskan pemecahan masalah. Dikatakan pula “PBL embraces the principles of good learning and teaching. It is student-directed (which encourages selt-sufficiency and is a preparation for life-laong learning), and promotes active and deep learning. PBL menganut prinsip-prinsip belajar dan mengajar yang baik . PBL berpusat pada siswa ( mengarahkan/mendorong siswa untuk mengembangkan diri dan mempersipkan siswa belajar sepanjang hayat), mengembangkan  keaktifan dan belajar yang mendalam.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas, penulis mengambil sebuah pemahaman bahwa problem-based learning (PBL) dapat diartikan sebagai suatu metode pembelajaran dimana peserta didik dihadapkan pada suatu masalah sebagai stimulus pembelajaran yang mendorong siswa menggunakan pengetahuannya untuk merumuskan sebuah hipotesis, kemudian diikuti oleh proses pencarian informasi yang bersifat student-centered melalui diskusi dalam sebuah kelompok kecil untuk mendapatkan solusi masalah yang diberikan. Atau dengan kata lain problem-based learning metode pembelajaran yang dipusatkan pada peserta didik dan sebuah masalah mengawali proses pembelajaran (problem first learning).

Alasan Peneliti Menerapkan Problem- Based Learning

Penerapan metode problem based learning tidak hanya meningkatkan hasil belajar tapi juga membekali peserta didik dengan pengalaman belajar menyelesaikan masalah sesuai materi pelajaran secara mandiri. Maka peneliti merumuskan tujuan penerapan problem based learning sebagai berikut:

1.    Siswa memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dijumpainya,

2.    Student-centered: siswa belajar secara aktif dan mandiri (sebagai adult learner) dengan sajian materi terintegrasi (horisonal dan vertikal) dan relevan dengan real setting (profesionalism)

3.    Siswa mampu berpikir kritis, mengembangkan inisiatif

4.    Terjadi perubahan paradigma pengajar sebagai fasilitator

5.    Pembelajaran berfokus pada kebermaknaan, bukan fakta (bukan sekedar menghafal tetapi menggunakan informasi untuk memecahkan masalah sehingga informasi tersebut lebih bermakna)

6.    Meningkatkan kemampuan siswa untuk berinisiatif (karena ada kesempatan untuk belajar mandiri dan kerja kelompok dan diskusi)

7.    Mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan siswa baik dalam mencari informasi maupun ketrampilan menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuannya untuk mengkonstruksi pengatahuan yang baru.

8.    Pengembangan keterampilan interpersonal maupun dinamika kelompok melalui diskusi kelompok dan kerja sama kelompok

9.    Peningkatan jenjang pencapaian jenjang pembelajaran dengan adanya ketrampilan dan pengetahuan lain yang diperoleh selain pada pencapaian pemahaman materi seperti; kerja sama, kemandirian, ketrampilan berpendapat dan rasa percaya diri.

By: Wahyudi

 

 

Back

Search site

yudhiproduction© 2010

http://wahyudiuksw.webnode.com