Berpikir Logis

02/05/2010 21:49

Berpikir Logis

Sesuai dengan harapan BSNP Pembelajaran matematika harus membiasakan anak menggunakan kemampuan berpikir secara kritis serta logis dalam setiap melakukan kegiatan belajar. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk karakter anak bagaimana berpikir, bagaimana berbuat, dan bagaimana bertindak sebagai perwujudan aplikasi pemahaman untuk menjawab segala bentuk kebutuhan dan persoalan yang dihadapinya. Untuk dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kepada siswa perlu ditanamkan pola pikir yang benar kepada siswa. Pola pikir yang benar akan membuat siswa memandang secara benar segala sesuatu dalam hal ini adalah pelajaran matematika.

Menurut Maxwell (2003:3) dengan perubahan pemikiran yang benar akan memberi sebuah perubahan yang berarti di dalam hidup siswa. Menurut Chambers (2008:115-116) pemikiran yang benar terhadap matematika anak akan memiliki motivasi belajar matematika. Motivasi itu akan menumbuhkan sikap positif siswa terhadap matematika. Untuk menumbuhkan pemikiran yang benar dan minat siswa untuk belajar dibutuhkan seorang guru yang benar.

Oleh karena itu, kepada guru diharapkan secara dini dapat melakukan proses pembelajaran yang dapat mengubah pola pikir anak kedalam pemikiran yang benar. Dengan dibiasakannya anak berpikir secara benar, maka anak akan semakin kritis dalam menghadapi maupun menyelesaikan sesuatu dengan penuh pertimbangan, dan cara yang benar serta metode dan aturan-aturan yang benar (logis).

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan berpikir logis, kita harus memahami terlebih dulu pengertian berpikir. Berpikir adalah berbicara dengan dirinya sendiri dalam batin yang merupakan kegiatan akal yang khas dan terarah, untuk mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan, meneliti sesuatu jalan pikiran, dan mencari bagaimana berbagai hal itu berhubungan satu sama lain (Mukhayat, 2004:3; Poepoprodjo & Gilarso, 1989:4).

Menurut Dewey (Bolton, 1972: 8) “thinking is a directed activity which inevitably involves some form of experimentation, however rudimentary”. Artinya berpikir adalah suatu pengarahan aktivitas yang tidak terlepas dari beberapa bentuk percobaan, walaupun yang paling sederhana/dasar. Diungkapkan juga “thinking is therefore essentially a matter of judging and evaluating objects and events: we judge some things as related to one another, others as contradictory one event as implying another, and so on”. Artinya berpikir adalah sesuatu yang utama dari penilaian dan evaluasi obyek dan kejadian: kita menilai beberapa hal yang dihubungkan dengan satu sama lain, peristiwa lain yang berlawanan yang menggambarkan kondisi yang lainnya, dan sebagainya". Dari semua ungkapan ini dapat diambil sebuah generalisasi tentang berpikir. Berpikir adalah berbicara dalam batin dengan akal dan nalar yang khas yang melibatkan kemampuan menganalisa, membandingkan, mencari bukti-bukti, dan mengambil kesimpulan sebagai bentuk penilaian/evaluasi terhadap sesuatu, hubungan tentang sesuatu dan keberbedaan dari sesuatu demi terwujudnya sebuah karya pikir.

Kata logis sering digunakan seseorang ketika pendapat orang lain tidak sesuai dengan pengambilan keputusan (tidak masuk akal) dari suatu persoalan. Hal ini berarti bahwa dalam kata logis tersebut termuat suatu aturan tertentu yang harus dipenuhi. Kata logis mengandung makna besar atau tepat berdasarkan aturan-aturan berpikir dan kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum yang digunakan untuk dapat berpikir tepat (Mukhayat, 2004:3; Poepoprodjo & Gilarso, 1989:4).

Dalam matematika, kata logis erat kaitannya dengan penggunaan aturan logika. Logika berasal dari kata Yunani, yaitu Logos yang berarti ucapan, kata, dan pengertian. Logika sering juga disebut penalaran. Dalam logika dibutuhkan aturan-aturan atau patokan-patokan yang perlu diperhatikan untuk dapat berpikir dengan tepat, teliti, dan teratur sehingga diperoleh kebenaran secara rasional (Jan Hendrik Rapar, 1996:9).

Menurut Albrecht (2009) dalam audiblox (Logical Thinking: A Learned Mental Process) menyatakan bahwa; “logical thinking is the process in which one uses reasoning consistently to come to a conclusion. Problems or situations that involve logical thinking call for structure, for relationships between facts, and for chains of reasoning that “make sense.”   Artinya pemikiran logis adalah proses di mana penggunaan penalaran secara konsisten untuk mengambil sebuah kesimpulan. Permasalahan atau situasi yang melibatkan pemikiran logis mengharapkan struktur, hubungan antara fakta-fakta, dan menghubungkan penalaran yang "bisa dipahami."

Dari uraian di atas terlihat bahwa berpikir logis tidak terlepas dari dasar realitas, sebab yang dipikirkan adalah realitas, yaitu hukum realitas yang selaras dengan aturan berpikir. Dari dasar realitas yang jelas dan dengan menggunakan hukum-hukum berpikir akhirnya akan dihasilkan putusan yang dilakukan. Agar seseorang sampai pada berpikir logis, dia harus memahami dalil logika yang merupakan peta verbal yang terdiri dari tiga bagian dan menunjukkan gagasan progresif, yaitu: (1) dasar pemikiran atau realitas tempat berpijak, (2) argumentasi atau cara menempatkan dasar pemikiran bersama, dan (3) simpulan atau hasil yang dicapai dengan menerapkan argumentasi pada dasar pemikiran (Sahat Saragih, 2007). Berpikir logis lebih mengacu pada pemahaman pengertian (dapat mengerti), kemampuan aplikasi, kemampuan analisis, kemampuan sintesis, bahkan kemampuan evaluasi untuk membentuk kecakapan (suatu proses).

Sikap

Menurut Eloy Zalukhu (2008) sikap adalah apa yang terjadi dalam diri seseorang, pikiran - pikiran dan perasaan - perasaan; tentang diri sendiri, orang lain, keadaan dan kehidupan secara umum. Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal.

Azwar (2000 : 6) mengatakan bahwa sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, obyek atau isue. Menurut Azwar contoh sikap peserta didik terhadap objek misalnya  sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran.  Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.

Menurut artikel yang ditulis dalam Wikipedia, the free encyclopedia diungkapkan “an attitude is a hypothetical construct that represents an individual's degree of like or dislike for an item. Attitudes are generally positive or negative views of a person, place, thing, or event this is often referred to as the attitude object”. Artinya sikap adalah suatu pengembangan  hipotetis yang menggambarkan/menunjukkan derajat kesukaan atau tidak sukaan seseorang terhadap sesuatu. Sikap secara umum merupakan pandangan positif atau negatif dari seseorang, tempat, hal, atau peristiwa yang sering dikenal sebagai obyek sikap. Diungkapkan juga bahwa, “Attitudes are judgments. … Most attitudes are the result of either direct experience or observational learning from the environment”.  Artinya sikap adalah sebuah penilaian dan pada umumnya sikap adalah hasil pembelajaran dari pengalaman atau pengalaman langsung dari lingkungan.

Menurut Fishbein dan Ajzen (Djemari Mardapi, 2008:105) sikap adalah predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu obyek, situasi, konsep, atau orang.

Dari semua pengertian yang di ungkapan di atas dapat diambil sebuah pengertian tentang sikap, yaitu sikap adalah penilaian seseorang terhadap suatu obyek, situasi, konsep, orang lain maupun dirinya sendiri akibat hasil dari proses belajar maupun pengalaman di lapangan yang menyatakan rasa suka (respon positif) dan rasa tidak suka (respon negatif).  Sikap merupakan salah satu tipe karakteristik afektif yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam proses pembelajaran. Ranah ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1995:179-180) karena sikap siswa akan menentukan seberapa jauh siswa mau belajar tentang sesuatu misalkan belajar matematika.

 

Back

Search site

yudhiproduction© 2010

http://wahyudiuksw.webnode.com