BELAJAR DAN MENGAJAR

06/05/2010 14:52

Belajar dan Mengajar.

Belajar dan mengajar merupakan dua peristiwa yang berbeda, tetapi terdapat hubungan yang sangat erat, bahkan terjadi kaitan dan interaksi yang saling mempengaruhi serta saling menunjang satu sama lain. Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek. Karna itu inti dari proses pengajaran adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu siswa dalam proses belajar.

Menurut Mel Silberman, (1996: 3-4) “…pour ing facts and concepts into students’ heads and masterfully performing skills and  procedures actuall interferes with learning”. Kutipan di atas memafarkan istilah belajar yaitu “…upaya mencurahkan fakta dan konsep pada peserta didik dan menguasai keterampilan dan prosedur yang sebenarnya”. 

… real learning is not memorization anway. Most of what we memorize is lost in hours. Learning can’t be swallowed whole. To retain what has been taught, studens must chew on it. Without the opportunity to discuss, ask questions, do, and perhaps even teach someone else reel learning will not occur (Mel Silberman, 1996: 4).

 

Berdasarkan istilah di atas, bahwa belajar sesungguhnya bukanlah dengan cara menghafal. Kebanyakan dari yang kita hafal hilang dalam beberapa hal. Belajar tidak dapat diserap secara keseluruhan. Untuk mengingat apa yang telah diajarakan, peserta didik harus mencernanya. Belajar yang sesungguhnya tidak akan terjadi, tanpa ada kesempatan untuk berdiskusi, membuat pertanyaan, mempraktekkan bahkan mengajarkan pada orang lain. Belajar bukanlah merupakan satu peristiwa pendek. Belajar terjadi secara bergelombang (Learning is not one-shot event. Learning comes in waves). Setelah belajar orang memiliki ketrampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, sebagaimana pendapat Wolfolk, Anita E. (1984: 159) yang mengatakan "…Learning is a change in a person that comes about as a result of experience". Kutipan tersebut dapat diartikan bahwa “…belajar adalah perubahan seseorang tentang sesuatu yang ada sebagai hasil pengalaman”. Pada kenyataan sesungguhnya, hasil akhir atau hasil jangka panjang dari proses pembelajaran ialah “...the students’ increased capabilities to learn more easily and effectively in the future" (Joyce & weil, 1986: 7) yang artinya “...kapabilitas belajar siswa meningkat dengan lebih mudah dan efektif dalam masa mendatang”. Oleh karena itu proses pembelajaran tidak hanya memiliki makna deskriptif dan kekinian, akan tetapi juga bermakna prospektif dan berorientasi ke depan.

Dengan demikian dapat diketahui belajar adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk memperoleh kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap sebagai akibat dari latihan. Dalam pengertian ini, tidak berarti semua perubahan berarti belajar, tetapi yang dapat dimasukkan dalam pengertian belajar yaitu: perubahan yang mengandung suatu usaha secara sadar, untuk mencapai tujuan tertentu.

Pada prinsipnya, belajar meliputi segala perubahan baik pola berpikir, pengetahuan, informasi, kebiasaan, sikap apresiasi, dan pengertian. Kegiatan belajar ditunjukkan oleh adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Belajar merupakan kegiatan yang aktif, karena kegiatan belajar dilakukan dengan sengaja, sadar dan bertujuan. Agar kegiatan belajar mencapai hasil yang optimal perlu diusahakan faktor penunjang seperti kondisi pelajar yang baik, fasilitas dan lingkungan yang mendukung serta proses belajar yang tepat.

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.  Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. (Nana Sujana, 1989: 29).

Nasution, Murshell J. S. (1980: 11) mengatakan, baik dalam pengajaran yang konvensional maupun modern, kita lihat mengajar adalah mengorganisasikan hal-hal yang berhubungan dengan belajar. Selanjutnya dikatakan untuk mengorganisasikan pelajaran tidak selalu diperlukan seorang guru, tetapi dapat dilakukan oleh suatu kelompok atau seseorang yang melakukan self study. Mengajar dapat dipandang sebagai penciptaan situasi dimana siswa diharapkan akan dapat belajar dengan efektif.

Muhammad Azhar, L. (1993: 11). Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan yang dimaksud, terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi yakni; tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi pelajaran yang diajarkan, guru dan murid sebagai subjek yang akan berperan serta berada dalam jalinan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana prasarana belajar mengajar yang tersedia.

Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa maka mengajar sebagai kegiatan guru (Sardiman, A.M. 2003: 47). Lebih lanjut dikatakan, mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Menurut pengertian di atas, tujuan belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin mendapatkan atau menguasai pengetahuan, sehingga konsekuensi dari pengertian tersebut dapat membuat suatu kecendrungan anak menjadi pasif, karena hanya menerima informasi atau pengetahuan yang diberikan oleh gurunya. Pengertian mengajar di atas adalah menanamkan pengetahuan kepada anak didik dengan suatu harapan terjadi proses pemahaman.

Winarno Surahmad (1994: 34) mengatakan mengajar sebagai peristiwa yang terikat oleh tujuan, terarah pada tujuan dan dilaksanakan khusus untuk mencapai tujuan itu. Oleh karena itu pendidik hendaknya menyadari bahwa peserta didik memiliki berbagai cara belajar (“…educators have come to realize that learners come in different styles”). Mel Silberman (1996: 5).

Dalam dunia pendidikan istilah belajar dan mengajar tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling terkait. Belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal dalam bersatu antara guru dan anak didik. Proses belajar mengajar merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen siswa sebagai raw input, komponen perangkat keras dan lunak sebagai instrumental input, komponen lingkungan sebagai pelaksanaan proses belajar mengajar sebagai komponen proses, dan akhirnya menghasilkan keluaran hasil belajar siswa sebagai komponen output.

 Berdasarkan bagan di atas dapat diidentifikasikan bahwa dalam proses belajar mengajar mengandung tiga persoalan pokok yaitu:

1. Persoalan proses yaitu persoalan mengenai bagaimana belajar tersebut  berlangsung, dan prinsip-prinsip apa yang mempengaruhi proses belajar.

2. Persoalan input; persoalan berbagai faktor yang mempengaruhi belajar.

3.  Persoalan output; persoalan hasil belajar dan berkaitan dengan tujuan.

Siswa sebagai raw input memiliki kemampuan yang sifatnya individual dan kemampuan ini sangat mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Kemampuan yang dimaksud adalah kondisi psikis. Kondisi fisik meliputi kesehatan dan keadaan organ tubuh. Sedangkan kondisi psikis meliputi inteligensi, minat, motivasi, kebutuhan, tanggapan, dan cita-cita.

Environmental input berupa keadaan situasi sekitar yang mempengaruhi pelaksanaan proses belajar mengajar. Lingkungan sosial adalah guru sebagai pengelola proses belajar mengajar.

Instrumental Input berupa bahan atau perangkat lunak seperti kurikulum, bahan ajar dan alat atau perangkat keras yang digunakan untuk penyampaian pesan yang tersimpan di dalam bahan. Perangkat keras antara lain: slide overhead, televisi , kaset recorder, dan sebagainya.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar ketiga input yaitu siswa, lingkungan dan instrumen sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses serta output. Jelasnya hasil belajar siswa sangat tergantung pada beberapa faktor komponen input dan proses.

Faktor komponen input yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah kondisi siswa dan lingkungan yang memungkinkan kegiatan belajar siswa mencapai sasaran yang diinginkan yaitu tercapainya hasil belajar yang optimal. Faktor pada diri siswa yang ikut menentukan aktivitas belajar adalah tanggapan terhadap situasi belajar mengajar yang diciptakan guru di mana situasi belajar guru tersebut tergantung pula pada cara mengajar atau strategi belajar mengajar yang dilaksanakan.

c.  Pendekatan  Sistem Pembelajaran.

Pendekatan sistem pada yang diterapkan dalam pembelajaran bukan saja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga sesuai dengan perkembangan dalam psikologi belajar sistemik, yang dilandasi oleh prinsip-prinsip psikologi behavioristik dan humanistik, serta kenyataan dalam masyarakat sendiri (Oemar Hamalik, 2003; 125). Sedangkan dalam Pedoman pembelajaran pada kurikulum 1994 bermakna cara menyikapi atau memandang tindak lanjut program pengajaran yang dimuat kurikulum. Di antara pendekatan-pendekatan pembelajaran yang banyak digunakan dalam ilmu pengetahuan sosial antara lain; (a) Pendekatan terpisah; (b) pendekatan integratif (terpadu); (c) pendekatan yang berorientasi pada kemasyarakatan; (d) pendekatan penemuan; (e) pendekatan pemecahan masalah; dan (f) pendekatan keterampilan proses.

Para ahli teori belajar mencoba mengembangkan berbagai cara pendekatan dalam sistem pengajaran atau proses belajar mengajar. Berbagai sistem pengajaran yang menarik perhatian akhir-akhir ini adalah inquiry-discovery approach, expository approach, mastery learning, dan humanistic education. Akan tetapi sistem mengajar team teaching juga tidak kalah pentingnya untuk diterapkan pada kurikulum sekarang ini, khususnya pada pembelajaran ilmu pengetahuan sosial; karena materi pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran terpadu.

Banyak ahli yang telah merumuskan pengertian mengajar berdasarkan pandangannya masing-masing. Perumusan dan tinjauan itu masing-masing memiliki kebaikan dan kelemahan yang berlandaskan pada teori tertentu, yaitu:

      1.  Mengajar adalah upaya penyampaian pengetahuan pada peserta didik.

      2. Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui  lembaga pendidikan.

      3. Pembelajaran  adalah upaya  mengorganisasikan  lingkungan  untuk    menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Manusiawi terlibat dalam sistem pengajaran, terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya.

Dalam proses pembelajaran diperlukan faktor pendukung lain, yaitu faktor lingkungan dan sejumlah faktor yang memang direncanakan untuk menunjang keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan yang dikehendaki, diantaranya kurikulum dan sarana perangkat yang lain. Hal ini terdapat dua kegiatan yang terjadi dalam kesatuan waktu dengan pelaku yang berbeda.

Pelaku belajar adalah siswa, sedangkan pelaku mengajar adalah guru. Kegiatan siswa dan guru berlangsung dalam proses bersamaan untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi dalam proses pembelajaran terjadi hubungan yang inter aktif antara guru dan siswa dalam ikatan tujuan proses pembelajaran.

 

d. Kondisi Belajar Mengajar yang Efektif.

Uzer usman, M. (2005: 21-31) mengemukakan sedikitnya lima hal yang menentukan keberhasilan belajar siswa dalam menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif , sebagai berikut; (1) melibatkan siswa secara aktif; (2) menarik minat dan perhatian siswa; (3) membangkitkan motivasi siswa; (4) prinsip individualitas; dan (5) peragaan dalam pengajaran.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh karena itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa dan memperbaiki kualitas mengajarnya. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak selakau fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai.

Hal ini menuntut perubahan dalam penggunaan model mengajar, strategi belajar mengajar, pengorganisasian kelas, sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Untuk memenuhi hal tersebut, guru dituntut mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sebagai subjek utama dalam belajar.

 

Back

Search site

yudhiproduction© 2010

http://wahyudiuksw.webnode.com